Banyak orang ragu mengambil keputusan karena ‘takut’ akan resikonya meski mereka punya ide bagus, mereka mengira dengan tidak melakukan apa-apa akan menghindarkan mereka dari resiko. Ketika sebuah inisiatif menghasilkan ‘manfaat’ bagi banyak orang, mereka akan mengatakan “itu  kan ide saya!” dan bila ada yang gagal mereka akan mengatakan “saya kan sudah ingatkan!”.
       Dalam keadaan yang ‘tidak pasti’ justru pemimpin dibutuhkan, yaitu mereka yang bersedia mengambil keputusan dengan penuh komitmen untuk melakukan apa saja yang diperlukan untuk mencapai hasil terbaik bagi banyak orang. (Hatta_Samisinau).

         Wajar bila dalam kondisi tidak menentu orang ragu atau khawatir untuk mengambil keputusan. Karena itulah untuk menghadapi situasi-situasi penting, organisasi membutuhkan orang-orang yang mau mengambil inisiatif, mengambil keputusan atas apa yang mereka yakini ‘baik’ untuk organisasi. Banyak dari situas-situasi penting itu yang kemudian menentukan tumbuh-besarnya organisasi.
        Para pemimpin menyadari bahwa keputusan harus diambil, meskipun dampak dari keputusan itu baru bisa diketahui belakangan. Mereka tidak berhenti hanya memikirkan resiko, namun memilih membuat prediksi, menengok pengalaman, dan dengan yakin mengambil keputusan. Mereka memilih sikap : “Saya putuskan, dan Saya siap berkomitmen melakukan apa yang diperlukan!”.
        Selain meyakinkan dirinya, pemimpin berusaha meyakinkan orang-orang disekitarnya untuk ‘bergerak’ melakukan apa yang diperlukan. Sikap yang ditempuhnya untuk meyakinkan orang lain adalah:
  • Keputusan ini adalah untuk ‘KITA’, membantu orang-orang untuk ‘terlibat’.
  • Bila keputusan ini membuahkan hasil, maka ‘ANDA’ adalah kontributor utamanya, membantu orang-orang untuk merasa ‘layak’.
  • Bila keputusan ini membuahkan kegagalan, maka ‘SAYA’ lah orang pertama yang perlu koreksi, membantu orang-orang untuk merasa ‘dipercaya’ dan nyaman tanpa tekanan.
Keputusan adalah "SENI" meyakinkan "DIRI SENDIRI" yang kita bagikan kepada "ORANG LAIN"
Untuk mampu mengambil keputusan matang dengan ‘ringan’ kita perlu membekali diri dengan sikap yang tepat:
  • Bukan berusaha ‘BERANI’ melainkan ‘SIAP’. Banyak orang mengatakan “seandainya saya di posisinya, saya pasti akan lakukan ini dan itu”. Ketika organisasi membutuhkan, bukan orang-orang yang berani yang dibutuhkan, tetapi yang siap dan menyediakan diri.
  • Bukan karena ‘TAKUT’ atas desakan atau resiko yang lebih besar melainkan ‘PEDULI’. Tidak ada yang bisa diharapkan dari tindakan yang didasari perasaan takut, karena keputusan membutuhkan tanggungjawab, dan tanggungjawab lebih mudah muncul dari orang-orang yang peduli.
  • Bukan dengan semangat ‘BERKORBAN’ melainkan menyediakan diri untuk ‘BELAJAR’. Orang-orang yang merasa telah ‘berkorban’ umumnya justru memiliki kebutuhan lebih tinggi untuk mendapatkan ‘penghargaan’ di kemudian hari. Dalam banyak situasi kita jumpai orang bilang “Saya kan sudah berkorban ini itu, giliran anda dong!”. Sementara, keputusan adalah tindakan awal yang perlu dilanjutkan oleh tindakan-tindakan selanjutnya yang dibutuhkan, yang belum tentu semuanya sudah kita kuasai sebelumnya. Maka kesediaan untuk ‘belajar’ jauh lebih bermanfaat dalam situasi seperti itu.
Ide BAGUS tidak ada yang tahu >> tidak ada yang TAHU = TIDAK BERGUNA
Banyak tahu tapi Tidak MAU = TIDAK BERGUNA
Keputusan ‘HEBAT’ tapi Kesempatan LEWAT = TIDAK BERGUNA
Kita perlu mensiasati kondisi  ‘dilematis’ agar mudah mengambil keputusan :
·      Cepat Vs Lambat          >>  yang tepat, saat sibutuhkan
·      Benar Vs Salah              >>  yang tepat, sudah diuji
·      Aman Vs Beresiko        >>  yang tepat, sudah diprediksi
·      Untung Vs Rugi            >>  yang tepat, niatnya ‘baik’

Tugas Leader selanjutnya : 
Mengubah Keputusan Menjadi "TINDAKAN!" yaitu
mengambil "INISIATIF" untuk mengerjakan apa yang diyakini"BAIK" dengan sikap mental yang "TEPAT" 
untuk mencari "SOLUSI". 
Sekian dulu ya...,semoga bermanfaat, ops, ja
ngan Lupa tulis komentarnya buat koreksi, sekalian nambah temen, Trims (hatta_samisinau)
 


Comments




Leave a Reply